- Orang-orang kafir yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian damai untuk tidak saling memerangi
- Orang-orang kafir yang tidak ingin untuk memerangi kaum Muslimin dan juga tidak memerangi kaumnya, ia memilih untuk tidak memerangi kaum Muslimin maupun kaum kafirin.
- Orang-orang munafik yang menampakkan keimanan karena takut diperangi oleh kaum Muslimin (Tafsir As Sa’di, 191).
Kamis, 25 Oktober 2018
Kebencian yang Membutakan
Selasa, 23 Oktober 2018
Oasis di Gurun Sahara, Aku Rindu
Senin, 27 Agustus 2018
KULIAH SAMBIL KERJA, KERJA SAMBIL KULIAH
KULIAH SAMBIL KERJA, KERJA SAMBIL KULIAH
Jumat, 24 Agustus 2018
STuNtMaN
Selasa, 12 Juni 2018
Ramadhan
It will be first time when i feel different to celebrate Ramadhan. Yes gw udah ada suami. There is impassivity.
But tetep the deepest thing that we always feel and we did itu about of our family especially our parents. Right?
Yhaa beginilah. Biasanya ada semangat atau perasaan menggebu ketika tau mau mudik. Ahh..anak rantau pasti khatam rasanya mau pulang ke kampung halaman itu gimana. Mungkin kalo the finger kita g keriting ngetik yhaaa we will express it in one hundred excited emoji.haha saking senengnya ceritanya.
Started from satu minggu sebelum mudik udah packing2 syantik. Apalagi gw udh mikir day by day what outfit should i wear?
Hahah eventually gw make yang itu itu aja yg gw suka. Eventhough ada seambrek baju bahkan yang baru beli sekalipun belum pernah dipake adaaaaaa.. laper mata sist. Maaf. But nanti juga gw pake.
Back to how much feeling does ..hmm maksudnya rasa bahagianya itu mau pulang. Apalagi memang masa kecil disana so banyak temen pula.
Hahaha oke but the reality is we are in the different circumstance :). Tapi teteplah harus ada bahagianya kan yha ..secara suami ada disamping kita. Dia juga orang yang kita cinta kan. Wajar aja yang namanya "first time" itu butuh compliance and restraint lah yaahh. Semoga suami memaklumi kalo tiba2 emosi ga jelas karena home sick. Hehehe
Pada intinya we must be ready no matter what the condition is, itu aja sih.
Oke selamat berlebaran guys. Mohon maaf lahir batin 😇
Marriage part 1
After marriage i have a different feelings. It is so randomly . I mean, you guys baru akan bisa merasakan setelah menikah pula. But you have to know what the point is. Intinya menikah itu bahagia kok dan menentramkan hati seperti janji Allah di Al Quran but, sorry i forgot where the caphter is.
Aku pernah minta sama Allah untuk disegerakan jodohnya seseorang yang dia mencintaiku dan aku mencintainya. That is the perfectly match right ? "Saling" yes you get the point. Akhirnya bertahap sekarang aku belajar the reality "saling" cos so far aku masih sering ngambek kalo ada yang ga sesuai sama keinginanku. (Alhamdulillahnya dia lebih dewasa) jadi perlahan aku juga harus ngurangin kebiasaan ngambeknya.
Gini deh pasti ada nanti hal2 yang bikin kita sedih dan merasa teraniaya sama pasangan kita, but believe me itu cuma pikiran kita sebenarnya. Karena dia tidak berniat seperti itu. Even sebenarnya secara tidak sengaja dia bikin kita sedih benerannnnn :(, kok dia gini sama aku ya dan bla bla bla.
Dan aku pengen banget sharing tentang karakter yang bikin aku startled sebenernya but i think twice because it is so privacy sist, so i decided to save it all for my own self and i would like to shared it with my God only :D.ku harap kalian juga gitu ya, jangan umbar-umbar masalah kalian dengan pasangan kalian di media social, believe me ga ada faedahnya, ada juga yang orang perhatian yang sebenernya mau ngepoin doing, save it only for you, sharingnya ke Tuhan aja dan ke sahabat yang bener-bener kamu percaya tentunya.
The conclusion of marriage itu saling
Saling menenangkan
Kamis, 01 Maret 2018
kesengsaraan abadi hanya ada di akhirat yang sering kita sebut dengan neraka.
kebahagiaan abadi hanya ada di akhirat yang sering kita sebut dengan surga.
Lalu apa yang membuat kita bisa jadi orang terbodoh didunia akhirat dengan yang namanya putus asa terlebih bunuh diri?
Biarlah orang lain itu mengambil hak kita, kita hanya perlu mempertahankan semampunya atau jika hati kita mampu mulia kita ikhlaskan saja.
Sakit memang ketika kebahagiaan kita direnggut paksa oleh orang lain, tapi berfikirlah orang lain itu tidak benar-benar murni kemampuan mereka, ada izin Tuhan didalamnya atas perbuatannya, entah itu untuk membalas dosa kita, atau sebagai ujian kita mencapai ridhoNya. Menjalani ujian ini tidak semudah lidah ini mengkritisi. Memang, memang demikian adanya.
Ya tapi inilah hidup, tidak simple seperti kalimat "santai saja, hidup jangan dibikin rumit" ah tapi ada benarnya, sesungguhnya kita adalah apa yang ada di hati dan pikiran kita. Yahh memang keduanya meninterprestasikan siapa kita sesungguhnya.
Jika dipikiran kamu diam itu adalah lebih baik daripada berucap sesuatu yang tidak bermanfaat dan menyakitkan yah silahkan, silahkan menjadi apa yang kamu fikirkan.
Kata bapakku dalam hidup ini sesungguhnya yang dicari adalah ketentraman, tapi tidak dengan pikiranku dan hatiku, karena yang aku yakini hidup ini adalah perjalanan dan apa yang akan tetap kita cari hanya satu " RidhoNYA". Meski diri ini tidak sempurna dalam implementasinya.
Kamis, 18 Januari 2018
Review jurna
ATTITUDE OF CORPORATE MANAGERS AND STOCKHOLDERS WITH RESPECT TO GOOD GOVERNANCE IN A DEVELOPING COUNTRY: A CASE STUDY OF BANGLADESH
Jurnal
Management Journal
Volume & Halaman
Vol. 10, No. 2, & 21-45
Tahun
July 2005
Penulis
Muhammad Z. Mamun1 and Mohammad Aslam
Reviewer
Arofah Rita Sahara
Tanggal
18 Januari 2018
Studi ini menunjukkan perbedaan persepsi antara manajer perusahaan dan pemegang saham dan tentang tata pemerintahan yang baik. Penelitian dilakukan di antara 25 pasang manajer senior dan pemegang saham dari 25 perusahaan yang dipilih secara acak di Bangladesh. Alat statistik yang berbeda seperti skala numerik, analisis diskriminan, Analisis deskriptif, uji-t, uji-F digunakan untuk analisis komparatif. Mengenai tata pemerintahan yang baik, ditemukan bahwa para manajer perusahaan dan pemegang saham memiliki pandangan yang berlawanan Sementara manajer perusahaan yang diteliti menemukan tata kelola perusahaan mereka cukup baik tapi pemegang saham melihat bahwa itu sangat buruk. Hal ini terjadi terutama dalam hal omset, produksi, modal, leverage, layanan hutang, kebijakan kredit, solvabilitas, sumber daya manusia, rekrutmen, teknologi, kepuasan pelanggan, pengendalian internal, kekuatan, kesempatan, persaingan, posisi industri, isu tawar menawar kolektif (CBA) dan pemulihan ekonomi dimana studi tersebut menemukan bahwa kelompok tersebut berbeda dalam persepsi; Padahal, mereka
memiliki pandangan serupa dalam hal kecukupan dana penelitian, kelemahan perusahaan dan ancaman, rencana kontingensi, adanya pengaruh politik. Para manajer berpikir bahwa perusahaan tidak memiliki cukup laba ditahan dan ini tidak boleh didistribusikan di antara pemegang saham, namun pemegang saham berpikir sebaliknya. Manajer selalu melihat bahwa mereka dibayar lebih rendah sedangkan pemegang saham mengungkapkan pandangan sebaliknya. Setiap kelompok percaya bahwa itu adalah kelompok lain yang mendominasi pengambilan keputusan. Sementara keduanya kelompok ingin memiliki interaksi timbal balik namun pemegang saham ingin berinteraksi lebih banyak dari pada manajer. Tidak diragukan perbedaan sikap ini tidak baik untuk kelancaran fungsi perusahaan, yang dibutuhkan adalah keterbukaan, lebih banyak dialog, saling percaya dan
saling pengertian. Studi ini juga mencatat bahwa masa jabatan manajer perusahaan adalah lebih banyak dengan perusahaan daripada pemegang saham. Hal ini juga menemukan bahwa manajer berpendidikan lebih baik dari pada pemegang saham. Studi tersebut mengamati lebih banyak pria dominasi baik dalam posisi manajemen maupun stockholding perusahaan. Meskipun kedua kelompok tersebut termasuk dalam tingkat usia yang sama namun distribusi mereka menunjukkan bahwa pemegang saham memasuki pasar saham pada usia dini.
Latar Belakang
Negara berkembang seperti Bangladesh tidak mampu mengelola pemerintahan yang buruk dalam konteks hubungannya dengan komunitas pembangunan internasional. Mitra pembangunan menyadari meningkatnya permintaan untuk reformasi dalam pemerintahan di seluruh dunia Dengan demikian, forum tata kelola perusahaan global telah diselenggarakan baru-baru ini untuk memberikan bantuan tata kelola perusahaan kepada negara-negara berkembang (Hample, 1998). Inisiatif semacam itu telah mendapat urgensi baru karena global krisis keuangan dan kegagalan perusahaan besar yang mengguncang pusat keuangan utama Dunia. Pertunjukan lembaga keuangan, publik atau swasta, secara langsung terkait dengan pembangunan ekonomi dan kemajuan sosial. Gangguan di daerah ini karena lemahnya tata kelola dapat menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan bagi masyarakat pada umumnya dan miskin pada khususnya. Karena tata kelola perusahaan tersebut telah menjadi isu penting terkait erat dengan fungsi badan pengawas keuangan yang tepat.
Kegagalan perusahaan besar seperti Bank of Credit and Commerce Internasional (BCCI) dan beberapa lainnya di Bangladesh telah dikaitkan dengan korupsi, kecurangan, ketidakmampuan, dan penyalahgunaan kekuasaan di tingkat tertinggi. Setiap kegagalan tersebut telah menghasilkan sistem yang lebih baik, lebih banyak peraturan perundang-undangan, dan pelaksanaannya dalam kerangka tata kelola perusahaan. Saat ini pemerintah Bangladesh telah bertindak membentuk sebuah komite untuk merombak ulang ' 1994 dengan memasukkan rincian peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi perusahaan. Selain itu ada juga inisiatif untuk membuat kode corporate pemerintahan. Juga ada tekanan luar biasa pada rekan asing dan perhatian untuk mematuhi Undang-undang Surbae-Oxley yang baru-baru ini diperkenalkan untuk memperbaiki tata kelola mereka.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang dilakukan adalah mengukur sikap manajer dan pemegang saham sehubungan dengan tata kelola perusahaan yang baik (corporate governance).
Rumusan Masalah
1. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam profil mereka seperti keterlibatan dengan perusahaan, kehadiran dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), kualifikasi pendidikan, jenis kelamin dan umur?
2. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam berbagai aspek perusahaan tata kelola seperti omset (penjualan), produksi, modal, leverage, hutang layanan, kebijakan kredit, solvabilitas, sumber daya manusia, kebijakan rekrutmen, teknologi yang digunakan, kepuasan pelanggan, litbang, pengendalian internal, kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman, persaingan, rencana suara, posisi masuk industri, Asosiasi CBA / Karyawan, pengaruh politik, pemulihan depresi?
3. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam kecukupan, distribusi dan pemanfaatan alternatif dari saldo laba?
4. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam pembayaran dividen untuk besarnya dividen dan perubahan kebijakan dividen?
5. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam hal gaji manajer besarnya remunerasi dan perubahan dalam struktur remunerasi?
6. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam pengambilan keputusan perusahaan?
7. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam interaksi timbal balik di antara keduanya?
8. Apakah manajer dan pemegang saham berbeda dalam tata kelola perusahaan secara umum?
Metode Analisa
Analisis Deskriptif, Analisis Deskriminan, Analisis Komparatif
Metodologi Penelitian
Metodologi yang digunakan:
1. Sampling Frame
2. Sampling Unit
3. Interview Procedure
4. Sources and Collection of Data
5. Measurement
Hasil Penelitian
Studi ini berfokus pada pandangan yang berbeda mengenai tata pemerintahan yang baik sebagaimana dirasakan oleh manajer perusahaan dan pemegang saham. Profil dari manajer dan pemegang saham menunjukkan bahwa rata-rata, manajer perusahaan kepemilikan lebih banyak dengan perusahaan daripada pemegang saham yang memegang saham perusahaan tersebut (62,16 bulan vs 28,12 bulan). Ini mungkin karena fakta bahwa manajer jauh lebih terikat pada pekerjaan di mana pemegang saham sering membeli dan menjual saham sebagai dan ketika kesempatan datang. Ditemukan bahwa jumlah rata-rata kehadiran manajer dalam RUPS tidak signifikan berbeda (α = 0,05) dibandingkan dengan pemegang saham (2,80 vs 2,28), meskipun manajer biasanya diwajibkan untuk menghadiri RUPS, sedangkan pemegang sahamnya tidak. Hal ini menunjukkan ketertarikan kelompok terhadap perusahaan mereka.
memiliki sikap yang berbeda pada umumnya, yang sangat didukung oleh diskriminan analisis. Manajer sangat percaya bahwa tata kelola perusahaan mereka lumayan bagus. Sebaliknya, para pemegang saham menganggapnya sangat miskin. Dengan kondisi omset, produksi, modal, leverage, layanan hutang, kebijakan kredit, solvabilitas, sumber daya manusia, rekrutmen, teknologi, kepuasan, pengendalian internal, kekuatan, kesempatan, kompetisi, posisi, CBA dan pemulihan, para manajer dan sikap pemegang saham berbeda secara signifikan. Tapi mereka setuju dengan isu-isu seperti litbang, kelemahan, ancaman, rencana dan pengaruh politik. Studi ini menunjukkan bahwa para manajer dan pemegang saham berbeda untuk kecukupan laba ditahan dan pembagian laba ditahan ini sebagai dividen. Manajer berpendapat bahwa perusahaan tidak memiliki saldo laba yang cukup dan ini seharusnya tidak didistribusikan di antara pemegang saham, sementara pemegang saham berpikir ke arah yang berlawanan tapi alternatif penggunaan laba ditahan selain dividen punya jenis pendapat yang sama. Kedua kelompok tersebut mengusulkan menggunakan dana untuk ekspansi, modernisasi dan investasi prospektif. Mengenai pendapatan dividen, yang lebih terkendali oleh perusahaan daripada capital gain, studi tersebut menunjukkan bahwa para pemegang saham mendukung untuk memiliki lebih dari itu. Ini adalah mungkin karena keinginan manajer akan pertumbuhan dividen yang konsisten dimana pemegang saham menginginkan lebih banyak dividen daripada yang sebelumnya diterima. Studi tersebut menunjukkan bahwa para manajer selalu berpikir bahwa mereka dibayar lebih rendah, namun pemegang saham mengungkapkan pandangan sebaliknya. Menariknya, para manajer tidak mau mengubah struktur pembayaran, meskipun mereka menganggap mereka kurang bayar; tapi Pemegang saham menginginkan perubahan struktur gaji agar konsisten dan adil pembayaran. Studi tersebut menemukan bahwa keputusan perusahaan diyakini didominasi oleh manajer dan pemegang saham. Seperti dicatat bahwa para manajer dan pemegang saham sebagian besar berbeda dalam sikap mereka mengenai parameter tata kelola yang baik. Hal ini juga menemukan bahwa perbedaan sikap yang diamati antara manajer dan pemegang saham mengenai tata pemerintahan yang baik cukup kuat dan masing-masing kelompok tidak terlalu tersebar di dalamnya kubu. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kecuali jika tindakan diambil untuk mengurangi kesenjangan antara manajer dan pemegang saham mengenai tata pemerintahan yang baik
kelancaran fungsi perusahaan akan sulit. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan, dialog, saling percaya, pelaporan yang adil, dll.
Kekuatan Penelitian
1. Dasar teorinya tepat dan lengkap
2. Metode analisa yang digunakan cukup banyak
3. Bahasanya jelas dan mudah dipahami
Kelemahan Penelitian
Kesimpulan terlalu banyak, sehingga tidak langsung mengungkapkan inti dari kesimpulan tersebut
Senin, 15 Januari 2018
Kamis, 09 November 2017
What skills and attributes does an accounting graduate need? Evidence from student perception and employer expectations
|
Judul
|
What skills and
attributes does an accounting graduate need? Evidence from student perception
and employer expectations
|
|
Jurnal
|
Accounting and Finance
|
|
Halaman
|
279-300
|
|
Tahun
|
2008
|
|
Penulis
|
Marie H. Kavanagh,
Lyndal Drennan
|
|
Reviewer
|
Arofah Rita Sahara
|
|
Tanggal
|
04 November 2017
|
|
Abstrak
|
Untuk beberapa tahun terakhir ada
banyak perdebatan antara berbagai stakeholder tentang perlunya lulusan
akuntansi untuk mengembangkan satu set yang lebih luas dari keterampilan
untuk dapat mengejar karir dalam profesi akuntansi. Penelitian ini
menggunakan metode campuran untuk memeriksa persepsi dan harapan dua pemangku
kepentingan utama: mahasiswa dan pengusaha. Temuan menunjukkan bahwa siswa
menyadari harapan pengusaha dalam hal keterampilan komunikasi, analisis,
profesional dan kerja sama tim. Meskipun pengusaha masih mengharapkan
pemahaman yang baik tentang keterampilan akuntansi dasar dan kemampuan
analisis yang kuat, mereka juga membutuhkan 'kesadaran bisnis dan pengetahuan
dalam 'dunia nyata'.
|
|
Rumusan Masalah
|
1. Seberapa
besar pengaruh ketrampilan untuk karir mahasiswa akuntansi?
2. Seberapa
besar presepsi siswa tentang tingkat prioritas yang mereka anggap telah
diberikan untuk pengembangan keterampilan profesional selama program mereka?
3. Apakah
profesional pengusaha berharap lulusan akuntansi memiliki keterampilan di
entry level'?
4. Apakah
ada perbedaan antara persepsi siswa dan harapan pengusaha dalam hal
keterampilan profesional yang penting untuk berkarir di bidang akuntansi?
|
|
Tujuan Penelitian
|
Penelitian ini untuk meneliti
persepsi mahasiswa lulusan akuntansi
tentang keterampilan dan atribut yang mereka anggap penting untuk karir
mereka, dan penekanan ditempatkan pada pengembangan keterampilan selama
program gelar mereka. Penelitian ini juga meneliti keterampilan dan atribut
yang diharapkan oleh berbagai kelompok pengusaha dan mengeksplorasi
kesenjangan antara persepsi siswa dan harapan pengusaha.
1. Untuk
mengetahui seberapa besar ketrampilan diperlukan untuk karir mahasiswa
akuntansi
2. Untuk
mengukur persepsi siswa tentang tingkat prioritas yang mereka anggap telah
diberikan untuk pengembangan keterampilan profesional selama program mereka.
3. Untuk
mengetahui apakah profesional
pengusaha berharap lulusan akuntansi memiliki ketrampilan di entry level.
4. Untuk
mengetahui apakah ada perbedaan antara persepsi siswa dan harapan pengusaha dalam
hal keterampilan profesional yang penting untuk berkarir di bidang akuntansi
|
|
Kesimpulan
|
Mahasiswa
adalah kelompok pemangku kepentingan kunci ketika datang memeriksa pandangan
tentang pengembangan keterampilan dan atribut untuk melengkapi identitas
mereka dalam berkarir di profesi akuntansi. Temuan-temuan dari penelitian ini
mengungkapkan bahwa siswa dinilai terus-menerus belajar sebagai bentuk pengembangan
keterampilan yang paling penting untuk karir masa depan dan, dalam hal (2003)
model Jones dan Sin, difokuskan pada pengembangan keahlian rutin teknis,
keterampilan komunikasi lisan dan tertulis, analitis dan keterampilan
pemecahan masalah dan keterampilan menghargai termasuk pengambilan keputusan
dan berpikir kritis. Menunjukkan tahap hidup mereka, siswa difokuskan pada
pengembangan berkelanjutan dari keterampilan pribadi seperti sikap
profesional, motivasi diri, kepemimpinan dan kemampuan untuk bekerja dalam
tim. Namun, apa yang menjadi perhatian adalah penekanan saat ini sedang
ditempatkan selama program akuntansi pada keterampilan bahwa siswa menganggap
penting. Ia akan muncul bahwa satu-satunya keterampilan yang disampaikan
sesuai dengan harapan siswa dalam penelitian ini adalah akuntansi dan
penelitian keterampilan rutin. Karena motivasi siswa untuk belajar dan
memperoleh keterampilan sering didorong oleh persepsi tentang relevansi
keterampilan ini untuk karir mereka, temuan kertas memiliki implikasi penting
bagi pendidik akuntansi.
Berkenaan
dengan pengusaha, mereka mengharapkan lulusan akuntansi memasuki profesi
untuk memiliki tiga kemampuan analisis / pemecahan masalah keterampilan pada
tingkat bisnis kesadaran atau pengalaman kehidupan nyata dan keterampilan
akuntansi dasar. Pengusaha juga mengharapkan keterampilan komunikasi lisan,
kesadaran etika dan keterampilan profesional, kerja sama tim, komunikasi
tertulis dan pemahaman tentang sifat interdisipliner bisnis. Sesuai dengan
model Jones dan Sin (2003), pengusaha membutuhkan lebih 'latar belakang
pengetahuan', pengalaman hidup dan keterampilan yang berhubungan dengan
pekerjaan. Seperti harapan ini telah dianjurkan oleh pengusaha untuk beberapa
waktu, terus mengirim pesan yang kuat untuk pendidik akuntansi dalam hal
kebutuhan untuk beradaptasi dengan memasukan kurikulum akuntansi, misalnya,
kerja terintegrasi ke dalam program belajar.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kesepakatan antara mahasiswa dan
pengusaha dalam hal keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam karir di
dunia bisnis / akuntansi hari ini (yaitu analitis / kemampuan memecahkan
masalah, kemampuan komunikasi lisan dan tertulis, kerja tim dan terus
belajar). Namun, ada perbedaan dalam hal bagaimana masing-masing kelompok
memberi peringkat pada setiap keterampilan. Selain itu, meskipun keduanya
baik mahasiswa maupun pengusaha memberikan komunikasi lisan sebagai peringkat yang sangat dihargai, penekanan
dalam program akuntansi masih pada komunikasi tertulis, pandangan yang
didukung oleh Leveson (2000), dan banyak dari keterampilan dan atribut yang
dianggap penting oleh kedua kelompok tidak mengingat tingkat yang diinginkan
prioritas selama program akuntansi.
Mungkin
tidak realistis untuk mengharapkan bahwa lulusan akan memiliki berbagai
keterampilan yang dibutuhkan oleh majikan (Cranmer, 2006). Pengusaha harus
memahami, sebagai siswa untuk melakukan, bahwa belajar adalah proses yang
berkesinambungan dan banyak keterampilan yang lebih tinggi yang mereka
harapkan hanya dapat dikembangkan dengan panduan 'pada pekerjaan'. Leveson
ini finding bahwa ada kurangnya
kosa kata bersama antara industri dan pendidikan mungkin menjelaskan relatif
kurangnya kesamaan antara keterampilan dan atribut bahwa siswa menganggap penting
dan sebagai pengusaha berharap tentunya. Sebagai Gati (1998) mengamati, jika
pengusaha tetap memprioritaskan keterampilan yang lulusan entry-level tidak
memiliki maka upaya mereka untuk mengamankan karyawan yang memuaskan mungkin
tidak sangat bermanfaat. Mengingat harapan siswa dan persyaratan pengusaha
tingkat yang jauh lebih tinggi dari perhatian harus diberikan kepada
keterampilan dan atribut yang diprioritaskan dan disampaikan dalam program
akuntansi jika lulusan akuntansi mampu untuk bertahan hidup dalam lingkungan
bisnis global saat ini. Tanpa ragu, keterampilan perdebatan akan terus
mengamuk. Setiap perpanjangan penelitian ini harus mencakup penelitian lebih
pada persepsi lulusan sudah bekerja di industry, akademisi dan badan-badan
profesional yang memainkan peran besar dan sangat penting dalam memproduksi
kurikulum untuk membantu mengembangkan keterampilan ini dalam akuntansi
profesional di masa depan.
|